Tuesday, November 30, 2010

Politik Luar Negeri Vietnam dalam Tantangan Globalisasi


Dalam perjalanan historis, Vietnam merupakan salah satu negara Asia Tenggara yang memiliki riwayat penjajahan yang cukup panjang. Wilayah ini pernah dikuasai Cina selama puluhan abad di masa lampau sehingga kultur politik Cina (sosialis komunis) . Kemudian di era imperialisme modern, Vietnam menjadi wilayah jajahan negara Eropa diantaranya Perancis pada tahun 1883-1940. Di masa perang dunia kedua ketika Jepang mengekspansi Asia Tenggara, Vietnam juga menjadi salah satu wilayah pendudukan negara tersebut. Kekalahan jepang dalam perang dunia kedua segera disambut dengan kemerdekaan Vietnam. Namun pasca kemerdekaanya tidak lantas menjadikan Negara ini aman dari peperangan, justru mulai tahun1946 Vietnam terlibat Perang Indocina yang berujung pada terpisahnya wilayah Vietnam Utara dan Selatan atas dasar basis ideologi. Perang Vietnam yang terjadi sekitar tahun 1957 hingga 1975 merupakan salah satu hasil dari intervensi asing yaitu Amerika Serikat dalam konflik antara kedua wilayah ini. Perang Vietnam ini menjadi perang nyata yang terjadi saat itu ketika dunia diwarnai dengan perang dingin antara blok barat (Amerika Serikat) serta timur (Uni Soviet) dalam penanaman pengaruh ideologi masing-masing.
Selanjutnya kemenangan basis komunis Vietnam utara yang berhasil menguasai wilayah selatan dan berhasil mengusir Amerika dari Vietnam menjadi legitimasi untuk menerapkan komunisme secara penuh dalam politik Vietnam. Sebagai negara sosialis yang menganut sistem satu partai, pemerintahan Vietnam dijalankan secara sentralistik dalam setiap pengambilan kebijakan. Termasuk dalam pembuatan kebijakan luar negeri, Partai Komunis Vietnam (PKV) sebagai partai tunggal memegang posisi penting untuk menentukan haluan dalam hubungan luar negeri Vietnam. Sistem sosialisme Vietnam yang dijalankan selama ini dianggap kurang menguntungkan jika fokusnya adalah ekonomi. Mengingat basis ekonomi Vietnam adalah pertanian dengan tingkat produktivitas rendah menjadikan negara ini awalnya tidak mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan sangat rentan dengan krisis. Selain itu, agresifitas politik luar negeri dan masifnya peperangan beberapa decade yang lalu menjadikan kondisi perekonomian semakin terpuruk. Sehingga pasca perang berakhir, orientasi politik luar negeri Vietnam tidak lagi tentang bagaimana memperjuangkan ideologi dan kekuatan politik, namun lebih mengarah pada rehabilitasi ekonomi.
Pertanyaan yang menarik terkait hal tersebut adalah bagaimana prospek orientasi kebijakan luar negeri Vietnam yang akhir-akhir ini berorientasi pada ekonomi dan liberalisasi perdagangan?

Dari Kepentingan Ideologi ke Rehabilitasi Ekonomi
Keterpurukan ekonomi akibat peperangan di masa lampau mempengaruhi elit pembuatan kebijakan Vietnam untuk melakukan perubahan dalam sistem perpolitikan. Pada tahun 1986, Partai Komunis Vietnam (PKV) melaksanakan Kongresnya yang keenam di Hanoi. Hal ini menjadi perubahan mendasar dalam perpolitikan Vietnam karena dalam momentum tersebut dihasilkan suatu keputusan yang dikenal sebagai “Doi Moi” atau kebijakan renovasi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari pengaruh kepentingan nasional Vietnam dan konstelasi politik internasional yang mengalami perubahan. Kondisi Vietnam yang saat itu secara politik dan ekonomi terisolasi dapat berpotensi menjadi ancaman bagi dirinya sendiri. Rapuhnya ekonomi domestic dan kuatnya kekuasaan politik partai komunis tentu menjadi sebuah pertimbangan yang cukup penting dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Vietnam terutama jika dihadapkan dengan tantangan globalisasi.
Keterbukaan dan perluasan hubungan dengan dunia luar merupakan hal yang penting bagi Vietnam karena akan memberi peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan pertahanan. Normalisasi hubungannya dengan Amerika Serikat pada 1992, memberikan pengaruh yang penting dalam rekonstruksi paradigma keamanan Vietnam. Bagi Vietnam saat ini, keamanan tidak lagi dilihat sebatas ancaman pada ideologi negaranya tetapi ancaman yang perlu dipertimbangkan adalah kemiskinan, kekurangan pangan, dan keterbelakangan. Maka, keterbukaan perlu diterapkan terutama dalam hal ekonomi meskipun tanpa mengabaikan kekuatan sistem politik sosialis.
Dalam hal ini, Vietnam perlu melihat bagaimana Cina bisa bertahan dan semakin maju dengan ideologi negara yang sama, sosialisme, namun juga terbuka terhadap ekonomi dan perdagangan dunia. Maka para politbiro PKV pada awal 1990-an membuat keputusan untuk memberi peran kepada swasta dan masyarakat untuk berkecimpung di bidang ekonomi. Sejak saat itu, perekonomian Vietnam lebih terbuka terhadap investasi asing dengan masuknya bantuan dan perusahaan asing serta maksimalisasi perdagangan dengan negara lain. Sebagai contohnya, perusahaan-perusahaan global mengincar Vietnam untuk meluaskan sayap bisnisnya, mulai dari perusahaan raksasa semikonduktor Intel sampai rumah busana Victoria's Secret. Keberadaan perusahaan transnasional tersebut membantu menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat Vietnam meskipun hanya dengan menjadi pekerja pabrik.
Manufacturing memang merupakan kegiatan usaha yang paling menonjol. Sebagai contohnya Nike, dengan lebih dari 130 ribu pekerja pada 165 subkontarktor di Vietnam, telah mengambil bagian sangat besar dalam perbaikan kondisi seperti terlihat sekarang. Maka sampai saat ini pun, pemerintah Vietnam berfokus untuk menarik investasi asing sebanyak mungkin ke dalam negeri dengan menjalin kerjasama dan hubungan diplomatic secara intensif dengan Negara-negara seperti Taiwan, Korea, bahkan negara barat termasuk Eropa dan Amerika sekalipun yang dulunya menjadi musuh. Selain itu, Vietnam juga lebih intensif terlibat dalam forum-forum perdagangan dunia, misalnya WTO, dan aktif membahas isu-isu perdagangan dan ekonomi internasional.
Perubahan kepentingan nasional Vietnam yang mempengaruhi orientasi politik luar negeri Vietnam dapat dipahami melalui konsepsi Richard C. Snyder tentang politik luar negeri. Menurut Snyder politik luar negeri suatu negara dipengaruhi oleh Internal Factors dan External Factors. Dalam kasus Vietnam ini, perubahan orientasi politik luar negeri tidak terlepas dari dinamika factor internal dan eksternal yang mempengaruhinya. Saat ini factor internal yang menjadi kepentingan Vietnam adalah rehabilitasi ekonomi dalam negeri agar dapat bertahan dalam kompetisi ekonomi global. Jaminan kemakmuran ekonomi ini juga menjadi kunci penting untuk mewujudkan stabilitas politik dan keteraturan sosial sehingga pemerintahan dapat berlangsung secara fungsional. Sedangkan factor eksternal yang mempengaruhi perubahan orientasi politik luar negeri Vietnam tidak lagi ancaman pertarungan ideologi dunia atau pun peperangan untuk berebut pengaruh antara barat dan timur, melainkan lebih dipengaruhi oleh letak geografis Vietnam dalam regionalism Asia Tenggara yang rawan konflik perbatasan serta keberadaan pengaruh Cina yang begitu besar di kawasan. Dalam hal ini Vietnam melihat peluang strategis untuk bekerjasama dalam ekonomi untuk meminimalisir konflik politik.

Prospek Orientasi Ekonomi dalam Kebijakan Luar Negeri Vietnam
Berdasarkan kondisi di atas, perluasan hubungan luar negeri Vietnam difokuskan untuk mengatasi keterisolasian di bidang politik dan ekonomi serta untuk mengintegrasikan perekonomian pada tingkat regional dan global. Namun apakah di masa depan orientasi politik luar negeri Vietnam tetap mengedepankan factor ekonomi? Kasus serupa dipotret oleh David Wurfel dalam bukunya “The Political Economy of Foreign Policy in Southeast Asia”, bahwa kerangka ekonomi-politik yang digunakan menganalisa perbandingan Politik Luar Negeri negara-negara Asia Tenggara pada umumnya tetap menempatkan faktor non-ekonomi di depan, walaupun nampaknya ada pergeseran dari tahun ke tahun.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam yang berhasil menarik perusahaan manufaktur global seperti Disney dan Intel untuk masuk ke negeri itu telah menciptakan pilihan-pilihan karir baru bagi tenaga kerja muda, terutama kaum perempuan. Kesibukan aktivitas industrial menjadi gambaran nyata bagi posisi Vietnam dalam percaturan ekonomi dunia saat ini. Lebih dari satu dekade setelah normalisasi hubungannya dengan Amerika dan berakhirnya peperangan, Vietnam muncul secara mengejutkan di tengah perdagangan global. Bahkan, kini Vietnam telah ikut memasuki jalur supercepat perdagangan bebas dengan menjadi anggota WTO sehingga kesempatan dan risiko kini terbuka sama besar di Vietnam. Saat ini, negeri tersebut mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Asia setelah China (8,4% tahun 2005). Beberapa hal tersebut cukup menjadi acuan untuk menganalisis prospek kebijakan luar negeri Vietnam yang berorientasi pada ekonomi.
Pertama, selama kepentingan rehabilitasi dan pertumbuhan ekonomi domestic masih menjadi agenda penting Vietnam untuk mengintegrasikan perekonomian ke sistem global, maka diprediksi dalam beberapa tahun mendatang politik luar negeri Vietnam masih akan berorientasi pada kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Negara-negara di dunia terutama Negara maju. Melihat pertumbuhan ekonomi Vietnam yang begitu potensial sebagaimana disebutkan di atas, dapat diperkirakan ekonomi Vietnam akan terus tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi dunia. Bahkan dalam beberapa decade mendatang, sangat dimungkinkan Vietnam menjadi Negara maju jika negara tersebut mengikuti resep kemajuan Cina dan Singapura : liberalisasi ekonomi dengan penguatan dan pemusatan sistem politik domestik.
Kedua, memang di satu sisi ekonomi Vietnam cukup potensial dan progresif, namun pembangunan ekonomi saja tidak cukup untuk meraih predikat sebagai negara maju. Hal yang dibutuhkan untuk mencapai kemajuan pembangunan utamanya adalah peningkatan kapasitas kemampuan sumber daya manusia. Jadi kebijakan luar negeri tidak hanya difokuskan pada maksimalisasi invesatsi asing atau pun kerjasama perdagangan, tetapi juga perlu dioptimalkan dalam kerjasama teknologi dan peningkatan mutu pendidikan dengan Negara-negara maju.
Ketiga, prospek ini dapat dianalisis dari tujuan jangka panjang. Kemungkinan dengan tercapainya kemakmuran ekonomi, maka keberhasilan pembangunan di bidang lain dapat tercapai misalnya stabilitas politik domestic serta kekuatan untuk memperbesar anggaran pertahanan dan keamanan nasional.

Kesimpulan
Dinamika politik luar negeri Vietnam dipengaruhi oleh kondisi factor internal dan eksternal di masing-masing periode. Berubahnya orientasi politik luar negeri Vietnam tidak terlepas dari perubahan konsep keamanan yang dipahami Negara tersebut. Dahulu politik luar negeri Vietnam cenderung agresif karena ancaman dipahami sebagai pertarungan antar ideology dan peperangan berbasis perebutan pengaruh ideology. Namun saat ini, ancaman lebih dipahami sebagai hal-hal yang mengancam human security khususnya dalam hal ekonomi. Oleh sebab itu, politik luar negeri Vietnam akhir-akhir ini berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan pengintegrasian ekonomi ke dalam sistem global. Selanjutnya, orientasi dan prospek politik luar negeri Vietnam di masa depan akan tetap ditentukan oleh factor internal dan eksternal serta bagaimana elit pembuat kebijakan menyikapi tantangan tersebut.

2 comments:

IMAGO (Ikatan Mahasiswa Bojonegoro - Jogja) said...

Minta kontribusi artikel http://www.imagobojonegoro.co.cc/

khurnia said...

wah makasih buat infonya gan, info yang sangat menarik...
salam